h1

Sebuah Penantian

June 16, 2009

By: Lul’s

“Seandainya boleh, ingin rasanya ku tawarkan cintaku kepada lelaki soleh yang bikin tenang, damai di hatiku. Layaknya Khadijah yang menawarkan cintanya kepada lelaki pilihan kekasih Allah yang berakhlaq mulia. Namun aku malu, aku bukanlah Khadijah sosok wanita perfect, cantik, kaya, dan memiliki pondasi agama yang kuat sehingga pantas baginya mendapat lelaki yang menjadi idamanya, pembimbing untuk urusan dunia dan akhirat”.

Matanya berkaca-kaca, ia terhanyut dalam lamunannya, penantianya mengharap sang pembimbing untuk urusan dunia dan akhirat belum juga kunjung datang. Kepribadianya yang tertutup tidak mudah bercerita kapada orang lain membuatnya semakin tertekan, hanya diarylah teman sejatinya. Namun dari sekian banyak curahan hatinya kepada diary, ia tidak pernah mendapat feed back, tidak pernah ada solusi yang muncul dari diary itu. Begitulah pribadi yang introfet, tidak mudah membuka diri dengan orang lain.

Sempat terlintas dalam benaknya, akankah seperti Rabiah aladawiyah? Yang mengagungkan cintanya hanya kepada Robbnya. Ataukah seperti Ji’ranah? Si wanita dungu yang kerjanya memintal benang kemudian setelah jadi dirusaknya kembali.Terus menerus ia lakukan itu, memintal kemudian dirusak. Sikap dungunya itu akibat keputusasaanya menanti seorang pembimbing yang tak kunjung datang. Naudzubillah, ia tidak mau berbuat dungu seperti ji’ranah.

Ia teringat peristiwa beberapa tahun silam ketika usianya baru beranjak 23 tahun, ketika itu ia lagi semangat-semangatnya dalam menuntut ilmu  melanjutkan jenjang pendidikanya. Namun dengan berat hati ia harus mewurungkan niatnya  untuk itu. Ibunya telah memilihkan calon pendamping untuknya, padahal ia belum tahu sama sekali sosok lelaki itu. Ibunya hanya cerita kalau ia punya pilihan untuknya, dan ibunya akan lebih senang jika lelaki itu bisa menjadi anaknya dengan jalan menikah dengan putrinya itu.

“Nduk, dia itu sarjana” ucap emaknya

“emak akan seneng jika kamu mau dengannya, usiamu kan sudah cukup untuk menikah, lihat teman-temanmu sudah pada gendong anak”.

Ia hanya terdiam, lidahnya kelu untuk mengucapkan tidak pada ibunya. Memang manusia zaman sekarang suka melihat gelar sebagai pertimbangan. Yang terlintas dalam benaknya saat itu adalah apakah aku bisa mencintainya?.

“Kalau memang dengan ini bisa membuat emak senang, aku akan mencoba, mudah-mudahan perasaan itu bisa tumbuh setelah menikah”

“apakah keputusan emak ini tidak tergesa-gesa, Apakah orang tua itu resah jika mempunyai anak perempuan yang belum menikah? “  berbagai unek-unek  terlintas dalam benaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk menuruti keinginan ibunya. Ia hanya berpikir dengan patuh terhadap orang tua mudah-mudahan ini menjadi jalan surga baginya.

Hari itu ibunya sibuk mempersiapkan jamuan untuk menyambut tamu dari pihak lelaki, acara lamaran akan dilangsungkan sore nanti ba’da dzuhur. Namun sampai hari itu ia masih berfikir,” apakah benar ini pilihanku? inikah finalku?”. Rupanya keraguan masih juga terlintas di benaknya.

Ruang tamu telah ditata untuk menyambut rombongan tamu dari pihak keluarga lelaki.  permadani berwarna merah dengan corak bunga-bunga telah siap disana. Beberapa hidangan dan buah-buahan pun telah ditata dengan apiknya. Ya, acaranya dibikin lesehan sehingga suasananya bisa lebih nyantai.

Rombongan tamu dari keluarga Purnomo telah tiba dengan beberapa bawaan  seperti kue-kue dan parsel khas lamaran. Salah satunya ada kue gemblong yang terbuat dari beras ketan ditumbuk dengan halus, itu sebagai simbol agar rekat hubungan kekeluargaan yang akan dijalin nanti. Tamu-tamu telah padat memenuhi ruangan itu. Sambutan dari pihak laki-laki dan sekelumit basa-basi telah disampaikan kepada pihak perempuan. Inti dari pertemuan itu adalah bahwa Purnomo bermaksud meminang Zainab sebagai calon istrinya.

Selesai sudah acara itu, tahap pra nikah, saling mengunjungi keluarga satu sama lain. Sejak acara itu Purnomo sering berkunjung ke rumah Zaenab.

Mereka bilang pinangan adalah hubungan setengah halal, padahal itu belum. Purnomo terkadang mangajaknya keluar sekedar jalan-jalan. Sekali, dua kali. Ia berontak dihatinya, ia merasa tidak nyaman jika lama-lama seperti itu. Entah apa yang menjadi pertimbangan lagi sehingga mereka menunda-nunda ke jenjang pernikahan.

Sebulan, dua bulan hingga setahun masih juga belum ada kepastian kapan ikatan yang sah itu akan dilaksanakan. Sampai-sampai Purnomo melanjutkan pendidikanya ke janjang yang lebih tinggi, melanjutkan studinya mengambil program Magister. Lambat laun komunikasi antara mereka mulai renggang. Mereka enjoy dengan kegiatanya masing-masing. Dibalik keraguan Zainab semenjak awal perkenalanya ternyata inilah yang ia dapat, tanpa adanya kejelasan akan seperti apa jluntrunganya?.

Inikah akibat dari pertunangan yang ditunda-tunda sehingga Allah tidak meridoinya?. Ia hanya murung jika mengingat hal itu. Keduanya telah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubunganya itu. Namun ia tidak ingin terpuruk dalam kesedihan. Dibacanya buku-buku penyemangat agar ia tidak lagi menengok ke belakang yang akan mengingatkanya pada hal-hal yang membuatnya murung.

“Mengurung diri dalam kamar yang sunyai bersama kekosongan yang membahayakan adalah cara yang ampuh untuk bunuh diri. Kamar anda bukanlah alam semesta. Dan anda bukan manusia satu-satunya di alam ini. Karena itu mengapa anda harus menyerahkan diri kepada pembisik-pembisik kesusahan dan kesedihan?. Tidakah anda sebaiknya menyatukan pandangan, pendengaran dan hati untuk menyeru kepada diri anda sendiri. (Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringsan atau pun berat, At-taubah: 41)”. Dikutip dari “La Tahzan karya Aidh Alqarny”

Ia berusaha menyibukan diri untuk menghibur hatinya. Ia mengisi hari-harinya bersama anak-anak didiknya di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di derah Kecamatan Jajarsari. Baginya anak-anak didiknya adalah pelipur lara, sikapnya yang lucu-lucu  membuatnya bisa tersenyum dan belajar bersabar dalam menghadapi tingkah mereka yang terkadang nyebelin.

Usianya kini hampir 30 tahun, namun sang pembimbing yang diharapkan belum juga ada. Ia tak tahu lagi harus menjawab apa jika ibunya menanyakan hal itu. Sampai saat ini ia belum menemukan lelaki yang cocok. Dibilang trauma karena kejadian yang lalu, tidak juga, because however life must go on. Jawaban yang tepat adalah karena Allah belum mempertemukanya, ia hanya bisa  bertawakal kepada-Nya.

Suatu hari ada acara akhir sanah di PAUD tempatnya mengajar. Acara itu sebagai ajang kreasi anak-anak di panggung dari pementasan hafalan juz amma sampai pembacaan bait-bait puisi untuk melatih mental anak-anak.  Dihadiri oleh wali murid serta beberapa tamu undangan. Dipenghujung acara diisi oleh seorang ustadz muda ketua yayasan PAUD tersebut, ditaksir usianya tidak jauh darinya mungkin selisih dua atau tiga tahun diatasnya. Bahasanya santun dalam menyampaikan ceramah, joke-jokenya juga tidak nyleneh, wajahnya tenang dan ramah. Fauzi namanya.

Rupanya Zaenab Simpati padanya. Dalam acara itu sang ketua yayasan memberikan bingkisan khusus bagi pengajar. Karena pengajarnay wanita, dikasinyalah buku yang berjudul “Wanita yang paling berbahagia di dunia”, ia senang menerima hadiah itu. Dibacanya buku itu hingga rampung, ia ibaratkan yang berbicara dalam buku itu adalah akh Fauzi. Ia sempat kepikiran, “sudahkah akh Fauzi mempunyai calon pendamping? Seandainya bisa, ingin rasanya kutawarkan cintaku padanya”.

Lagi-lagi keraguanya datang, ia tidak mau kejadian yang lalu terulang, ia ingin mengutarakan isi hatinya kepada seseorang yang dapat dipercaya tapi siapa?. Inilah kekurangannya, ia telan semua masalahnya sendiri.

Cukup lama ia tidak menunjungi sahabat sejatinya, diary.

“Dear, diary,

you are my best friend. Ku tahu kamu tak kan mengeluh atas keluhan-keluhanku. hari ini aku mengadu lagi padamu. Aku mengagumi ciptaan-Mu ya robb, bahasanya santun, wajahnya tenang, rasanya damai hatiku jika mengingatnya. Ups diary, aku tidak mau ngelantur”.

Ditutupnya sahabat sejatinya itu, ia tengok jarum jam telah menunjukan pukul 3 Am, ia beranjak dari tempat tidurnya mengambil air wudu. Ya waktu yang tepat untuk mengadu kepada Robbnya, dalam sujud panjangnya ia memohon kepada Allah mengharap seorang pembimbing untuk urusan dunia dan akhirat yang soleh.

h1

Menulis Adalah Ibadah

May 31, 2009

Dengan menulis kita  akan bisa menghimpun sekian kebaikan yang  melahirkan pahala di sisi Allah. Dengan catatan aktivitas menulis tersebut bersumber dari motivasi ketulusan dan ikhlas karena Allah. Keikhlasan merupakan energinya dalam menyusun huruf-hurufnya menjadi deretan kata yang bermakna dan mencerahkan pembacanya.

Keikhlasan itulah yang akan menjadikan aktivitas menulis bernilai ibadah. Ibadah merupakan manifestasi dari tujuan penciptaan kita.  Allah bersabda dalam surat al Hajj ayat 77, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu berntung” Maka tidak ada jalan untuk beruntung (berarti), kecuali dengan keikhlasan dalam ibadah dan berusaha bermanfaat bagi orang lain. Kebahagiaan dan kesuksesan bagi mereka yang berjalan di atas jalan ini.

h1

Apa yang Akan Aku Tulis?

May 18, 2009

By:  Nadya

Ketika pertanyaan “Apa yang akan aku tulis?”
mengganggu tekadmu,
maka katakanlah pada dirimu:
Tulislah harapanmu!
Tulislah senyummu!
Tulislah dan sebarkanlah wangi parfummu!
Terus gerakkan penamu menggores kata demi kata
Rangkailah hingga menjadi rangkaian bunga,
karena bisa jadi huruf yang kamu rangkai itu menjadi obat bagi
kesedihanmu atau kesedihan orang yang membacanya.
Tulislah untuk akal-akal itu!
Tulislah untuk hati-hati itu!
Tulislah dan biarlah kami membacanya,
biarkan kami menyelami
dan tenggelam dalam dunia maknamu,
dalam petualangan pikiranmu,
dalam kedalaman ilmumu.
Kami akan mendapat pespektif,
kami akan memiliki pemikiran baru,
sehingga kami mempunyai kekuatan….
Maka tulislah!
Hingga kamu mendapati alasan mengapa matahari terbit dari barat,
Hingga kamu juga menemukan alasan mengapa kamu hidup,
Hingga setiap huruf yang kamu tata itu menjadi saksi bahwa tulisanmu adalah Tulisan orang-orang yang kuat,
Tulisan orang-orang yang mulia,
Tulisan yang datang dari zaman para nabi.
Maka tulislah!
Orang-orang Yahudi menulis,
Orang-orang Nasrani juga menulis..
Tidakkah orang-orang mukmin juga bisa menulis!?
h1

Pena Siapakah Itu?

May 8, 2009

Pena Siapakah Itu?

Pena itu adalah pena khusus…

Dan bukan sembarang pena…

Mengapa demikian?

Karena:

Tintanya taqwa..

Memberi minum akal dengan air ilmu..

Tidak untuk menyakiti siapapun kecuali untuk mengungkap kebenaran..

Melukis kebaikan di atas kanvas kehidupan..

Tidak menulis dengan maksud pamer dan popularitas, melainkan mengharap keridaan Allah..

Pena siapakah itu?

Anda seorang ilmuwan yang takut kepada Allah?

Anda seorang yang beriman?

Anda seorang muslim?

Mudah-mudahan pena itu milik anda..!!!!!! :)

Disampaikan pada kajian online

Jumat, 13 J. Awal 1430/08 Mei 2009

h1

Writing Is Amazing

May 7, 2009

Imam Ali bin Abi Thalib, mengatakan bahwa: “Ilmu itu seperti hewan buruan, dan tulisan adalah tali  kekangnya. Maka ikatlah hewan buruanmu dengan tulisan-tulisanmu.” Demikian Imam Ali mengumpamakan urgensi menulis dalam mengikat ilmu.

Fatimah Mernisi seorang pemikir-penulis menyatakan bahwa  menulis merupakan aktivitas kulit menyegarkan kembali dirinya. Sehingga diapun berani mengatakan bahwa “menulis lebih baik daripada operasi plastik!” Bahkan dalam buku yang berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions, yang merupakan hasil penelitian para professor biologi dan psikologi, menunjukkan fakta yang lebih dahsyat lagi. Seperti yang diungkapkan oleh James W. Pennebaker dalam buku tersebut menyatakan: “Menulis tentang hal-hal yang negative akan memberikan pelepasan emosional yang membangkitkan rasa puas dan lega.”

Hal tersebut di atas membuktikan bahwa ternyata menulis bukan kegiatan yang remeh temeh. Writing is amazing! Kalimat itu mungkin cukup representative untuk mengungkap lebih jauh manfaat dari kegiatan menulis. Diantaranya seperti yang diungkap Caryn Mirriam Golberg dalam bukunya Write Where You Are: How to Use Writing to Make Sense of Your Life.

Caryn menyajikan 12 alasan kenapa kita harus menulis, yaitu:

  1. Menulis membantu menemukan siapa diri kita
  2. Menulis dapa membantu kita percaya diri
  3. Saat menulis, kita dapat mendengar pendapat unik kita sendiri
  4. Aktivitas menulis menunjukkan apa yang dapat kita berikan kepada dunia
  5. Dengan menulis, kita mencari jawaban terhadap pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru untuk ditanyakan
  6. Menulis meningkatkan kreativitas kita
  7. Melalui aktivitas menulis kita dapat berbagi dengan orang lain
  8. Menulis member kita ruang untuk melepaskan amarah, ketakutan, kesedihan dan perasaan menyakitkan lainnya
  9. Kita dapat membantu menyembuhkan diri dengan menulis
  10. Menulis memberi kita kesenangan dan cara bagaimana mengungkapkannya
  11. Menulis membantu kita lebih menikmati hidup
  12. Melalui menulis kita dapat menemukan impian kita.

Nah, setelah mengetahui alasan mengapa kita harus menulis, apakah kita masih ragu untuk memulai menulis? Apakah anda belum percaya bahwa menulis itu luar biasa? Kalau belum, mari kita simak pernyataan Nietzche, “Siapa yang memiliki alas an untuk hidup akan sanggup mengatasi persoalan hidup lewat cara apapun.” Jadi apa pentingnya menulis buat kita? Jawabannya adalah untuk menemukan alas an mengapa kita hidup! Silahkan anda buktikan dan selamat mencoba.. :)

Disarikan dari Writing Is Amazing, Fahd Djibran

Disampaikan dalam kajian online, Ahad, 09 J. Awal 1430/04 Mei 200

h1

Tiga Kata Sakti FLP

May 2, 2009

Oleh: Shams

Forum Lingkar pena sebagai komunitas kepenulisan memiliki semboyan untuk menyemangati setiap ruang aktivitasnya. Semboyan tersebut terdiri dari tiga kata, yang kemudian kami sebut sebagai ‘Tiga Kata Sakti FLP’, kata tersebut ialah:

Pertama, Berbakti, Kata yang diilhami dari informasi Allah akan maksud penciptaan manusia. Informasi tersebut terdapat dalam Al Qur’an surat adzdzariat (51) ayat 56 yang berbunyi: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”

Kedua, Berkarya, Kata yang diilhami dari perintah Allah untuk membaca. Karena membaca sebagai energi manusia untuk menyelesaikan persoalan yang menyapa kehidupannya. Perintah tersebut terdapat dalam Al Qur’an Surat Al ‘alaq (96)  ayat 1-5  yang berbunyi: “Bacalah dengan  menyebut nama TuhanMu yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpat darah (2) Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia (3) Yang mengajar Manusia dengan pena (4) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”

Ketiga, Berarti, Kata tersebut sebagai konsekuensi logis dari proses berbakti dan berkarya.  Kata tersebut diterjemahkan dari informasi Allah tentang hakekat manusia yang merugi dalam surat Al ‘Ashr (103) ayat1-3 yang berbunyi: “Demi masa (1) Sungguh manusia berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran (3)

Tiga kata sakti tersebut menjadi penting untuk dipahami dan diketahui oleh semua unsur yang berada di dalam komunitas FLP, Karena tiga kata tersebut disamping sebagai tradisi yang ingin FLP bangun dan wujudkan dalam tiap diri anggotanya, juga sebagai energi FLP untuk terus berupaya menampilkan dirinya sebagai komunitas yang menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan bagi ummat.

Wallahu a’lambish showab.

h1

Kajian Online FLP Saudi

April 26, 2009

Akhirnya setelah sekian lama ditunggu-tunggu malam ini tercatat dalam sejarah FLP Saudi melakukan koordinasi online pertamanya di ruang serat optik – internet.

Dengan diikuti 4 pengurus yang sekaligus aktifis chater mig33, disepakati beberapa agenda pemenuhan nutrisi anggota dalam beraktivitas di FLP. Diantaranya  dengan memanfaatkan rum FLP Saudi di mig33 sebagai ruang kajian. Kajian tersebut akan dilaksanakan setiap hari jumat, ahad, dan selasa jam 6-7 pagi waktu Saudi.  Pada masing-masing hari tersebut akan dibahas satu topik utama. Tiap hari jumat Alwy akan mengulas materi smart writing motivation, Nadya akan mengulas materi kepenulisan setiap hari Ahad, kemudian setiap hari selasa loel akan mengulas materi ke-flp-an.

Sebuah upaya sederhana yang diharapkan memberi kemanfaantan bagi semua yang merasakannya. Disamping juga sebagai ladang menabung bekal menuju kehidupan abadi. Bekal yang senantiasa tercatat detail dalam catatan tangan utusan (malaikat) yang mulia lagi berbakti (QS. ‘Abasa: 15-16)

h1

Tentang Ayat-Ayat Cinta

April 1, 2009

By : Alwy Aly Imraan

Sebelumnya, bukannya saya latah dengan ikut mengulas tentang film (plus novel) ini, hanya kesempatannya saja yang tepat. Ingin saya mengajak antum melihat film (plus novel) di atas dari sudut pandang yang lain. Sebagaimana langit, akan berbeda jika kita melihatnya ke arah cakrawala yang tak sama, meski kita berdiri masih dalam satu garis di titik memandang yang sama.

Novel ini (ditulis oleh Habiburrohman el shirazy, sarjana Al-Azhar, yang kebetulan juga satu almamater dengan Syaikhuna – walau berbeda angkatan –, sama-sama pernah mengenyam pendidikan di PP.Futuhiyyah, Mranggen) harus kita akui mampu membawa pembacanya pada sebuah kenyataan sebenarnya akan arti cinta dan kehidupan, dan pembelajaran baru tentang rahasia besar kehidupan itu sendiri. Tak berlebihan kiranya jika novel ini dikatakan sebagai novel pembangun jiwa. Siapa sih yang tidak gerimis hatinya usai membaca novel ini? Saya sendiri mungkin 10 kali lebih baca novel ini. Kalau filmnya? Fa haddits wa laa kharoj, terserah antum ingin menilai apa, yang pasti mata saya sampai sakit melihatnya, perasaan berkecamuk yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Terharu? Pasti.

Ini tentu saja bighoddhin nadhor (dengan tanpa melihat) para pemeran Fahri, Aisha, Maria, Nouroh, juga Nurul (Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa putri, Zaskia Adya Mecca, dan Melanie Putria) meski angan kita tidak bisa terlepas dari sosok mereka. Sebab artis tentu saja punya “hukum” tersendiri, meski mungkin kita terpukau dan terpana pada salah satu di antara mereka (seperti saya yang sempat terpukau dengan “kecantikan” pemeran Aisha). Tidak bisa kita menilai mereka baik begitu saja hanya dengan dia mendapat peran baik, (saat yang sama, sebagai muslim tentu kita harus mendoakan baik bagi mereka).

Sebab, di belahan dunia manapun, dunia seni peran itu sama, gak arab, gak eropa, gak amerika, gak indonesia. Bisa jadi di film pagi artis itu jadi ulama’, di film sorenya jadi bromocorah, belum lagi kehidupan pribadi mereka yang tanpa dibahas kita pun sudah tahu. Jangan kaget kalau para artis arab (bahkan yang non muslim) dengan lancarnya berdalil pakai al-qur’an dan hadits dalam film-film sejarah. Tak ada perbedaan antara Samir Ghanem, Basim Yakhur, Taim Al-Hasan, Nur Syarif, Sulaf Fawakhergi, Suzan Najmeddin, Pascal Machelaani, Nesriin Thofasy, Zainab Askary, Farah Basesu, Saloum Haddad, Taj Haidar, dengan nama-nama yang tersebut di atas. Meski kita juga harus ingat, tidak semua dari mereka jelek (kalau soal dunia entertainment, ada babnya sendiri, bukan di sini).

Kembali ke pokok bahasan, apa yang bisa kita tangkap dari film ini? Belum juga respon bangsa kita yang heboh, sampai kepala negara pun menyempatkan 2 jam (yang bagi beliau, 2 jam adalah berharga) untuk menontonnya. Banyak pelajaran sebenarnya, dan yang pasti dari sisi akhlaqiyah, bahwa menanggapi cinta yang tumbuh di hati tidak harus sefrontal keinginan kita, bagaimana kita mengendalikan cinta yang sedang tumbuh di hati kita sesuai koridor syari’at. Tentu saja film ini memberi iluminasi (penyegaran) terhadap kita (dan masyarakat kita) akan manajemen cinta itu sendiri, tidak seperti film-film lain yang kita tahu sendiri kayak apa pelampiasan cinta, tak ada lagi kecuali berdasar nafsu dan yang pasti berkiblat ke barat.

Bisa jadi kita mungkin tidak heran dengan alur cerita film itu (sebab itu kehidupan kita, dunia pesantren), tapi bagi masyarakat kita? Pasti ada perubahan persepsi akan poligami, dan sebagainya. Belum lagi dialog film ini (yang untuk pertama kali dalam jenisnya) menggunakan bahasa arab (dialek mesir), di saat bangsa kita mulai jauh dari bahasa dunia islam ini. Juga setidaknya kita sendiri tahu, kayak apa sih bahasa arab percakapan itu (sekedar tahu, penduduk indonesia 212 juta, yang jadi santri tidak sampai 10 juta, itupun yang dari 10 juta tidak semua bisa bahasa arab)

Saya jadi teringat dengan Guru besar tercinta (Abuya Sayyid Muhammad), beliau biasa mengajak kita murid-muridnya nonton film bareng setiap hari kamis dan jumat, beliau almarhum sendiri melihat langsung dengan kita, melihat musalsal (sinetron), beliaupun tak jarang memberi komentar akan film itu. Kita diputarkan film-film bermutu, di samping sebagai hiburan namun kita juga di tuntut untuk mengambil pelajaran dari film yang diputar itu. Jujur (ini hasil dari tarbiyah beliau) 2 sinetron yang sempat saya tonton bersama beliau (Azzier Salim dan Robi’ Qurtubah) ternyata memberikan kita pembelajaran politik yang sangat berharga yang sampai saat ini kita (yang masih tersisa dari murid beliau) ternyata sedang melakoninya. Bisa jadi mungkin kita tak tahu apa yang harus kita lakukan menghadapi kenyataan kehidupan yang sedang saya hadapi bersama teman-teman di Mekkah saat ini (yang tidak bisa saya ceritakan pada antum semua) umpama tidak melihat film-film itu.

Dan film, memiliki ta’attsur Nafsiy (dampak psikologis) tersendiri, hal inilah yang dibaca dengan baik oleh Beliau, sehingga kita di ajak nonton, bareng lagi. Jadi antum jangan heran kok tiba-tiba setelah AAC booming, tiba-tiba di sana sini banyak yang berbusana seperti Aisha (bercadar) lebih heboh lagi kalau para istri meniru Aisha, suami mana yang gak sueneng gitu, hehehe… di Amrik sendiri, masyarakatnya lebih percaya film daripada omongan presidennya.

Jadi, di samping kita melihat film/sinetron sebagai komoditi hiburan, pelepas lelah, kita juga harus bisa mengambil pelajaran dari film-film itu, khudz maa shofa wa da’ maa kadar, ambil yang jernih dan tinggalkan yang keruh, di samping agar kita tidak membuang waktu dengan melihat film-film itu. Tiru sifat-sifat yang protagonis dan tinggalkan sifat-sifat yang antagonis.

Setidaknya, sarana dan prasarana belajar kehidupan itu banyak sekali, tinggal kita, bisa tidak memanfaatkannya? Sebab semua apa yang terjadi di hadapan kita, sekecil apapun, adalah pelajaran tersendiri terhadap arti hidup, agar kita mampu merasakan bahwa kita adalah BENAR-BENAR MANUSIA.

Wallahu A’lam (*)

Mekkah Al-Mukarromah

15 Rabea al-thani 1429 H

Sambil diiringi soundtrack

“Ayat-ayat cinta”-nya Mbak Rossa

h1

Beribadah dan Berpolitik

March 31, 2009

Beribadah dengan Berpolitik

Ada sebuah diskusi tanya jawab yang menarik untuk disimak.

Penanya:
Apa yang dimaksud dengan beribadah dengan berpolitik?

Jawaban:

Assalamu’alaikum Waramatullahi Wabarakatuh,

Beribadah dan berpolitik itu berangkat dari pemikiran bahwa agama Islam itu adalah agama yang mencakup semua aspek kehidupan. Bukan agama yang hanya mengurusi ritual teknis belaka.
Semua sisi kehidupan diyakini merupakan bagian utuh dan satu kesatuan, dimana syariah Islam ini punya otoritas untuk mengaturnya. Salah satu kehidupan itu adalah wilayah politik.
Beribadah dengan berpolitik itu bukanlah hanya semata-mata bermain-maindi dunia politik, juga bukan semata-mata berpolitik demi politik itu sendiri. Namun beribadah dengan berpolitik adalah mewarnai kehidupan manusia didunia ini serta mengajak mereka kembali kepada ajaran Allah SWT serta mengamalkan perintah Nabi-Nya, namun lewat jalur-jalur politik.
Memang harus diakui banyak orang memandang bahwa dunia politik itu jahat, culas, penuh nafsu keserakahan, meluap dengan angkara murka serta kebejatan. Kesan ini tidak terlalu salah, bila kita menyadari dan menyelami apa yang ditentukan dari sebuah kebijakkan politik.
Seribu ceramah dari seribudai pada seribu hari-hari kerja mereka yang melelahkan itu, nyaris tidak bisa melawan sebuah kebijakan politik yang ada. Angkara murka dan kemaksiatan yang merajalela di suatu negeri, sudah bisa lahir dari sebuah kebijakan politik.
Munculnya pezina, pelacur, penjudi, pemabuk, pemerkosa, penjahat, pencuri, perampok, pencoleng, pembegal, serta beragam aktifitas didunia hitam, juga lahir dari sebuah kebijakan politik.
Hancurnya ekonomi suatu bangsa , bergantungnya mereka kepada hutang luar negeri, rusaknya alam, hilangnya sumber daya, kacaunya perdagangan, semua sangat bergantung dari sebuah kebijakan politik.
Kemiskinan, kemelaratan, kelaparan, kehinaan, kekurangan gizi, taraf hidup yang rendah, merosotnya kualitas kesehatan, merebaknya penyakit serta munculnya kesengsaraan, selalu berangkat dari sebuah kebijakan politik.
Munculnya dekadensi moral, seks bebas, seks sejenis, majalah porno, pornografi, pornoaksi, lesbianisme, sodomi, wisata seks, pengguguran bayi(aborsi), dan bisnis prostitusi tidak lain adalah anak kandung dari sebuah kebijakan politik.
Mahalnya harga-harga, ekonomi yang mencekik, angka kemiskinan yang meledak, angka pengangguran yang semakin membengkak, kasus PHK yang semakin marak, adalah dampak dari sebuah kebijakan politik.

Ibadah di dunia politik

Ketika dunia politik diisi oleh orang-orang opotunis yang tidak pernah percaya adanya Tuhan, agama, dan kehidupan hari akhir maka jadilah kehidupan umat manusia seperti neraka. Sebab merekalah yang mengambil kebijakan politik sehingga melahirkan beragam azab dan bencana di atas.
Sayangnya, orang-orang shalih yang percaya kepada Allah SWT dan paham kitab suci, umumnya malah lari dan menghindar dari dunia politik. Alih-alih menyelamatkan umat, mereka malah mencari tempat berlindung sendiri-sendiri di balik liang kecil sambil memendam kepala di dalam tanah. Memejamkan mata dan berpikir seolah semua terjadi begitu saja dan merupakan takdir Allah SWT.
Sayangnya, orang-orang yang bersih dan suci ini nyaris tidak mau mengotori tangannya dengan kerja dan usaha terlebih dahulu, sehingga mereka lebih memilih untuk bersembunyi di dalam pesantren dan lembaga pendidikan. Membangun tembok benteng untuk sekedar melindungi diri mereka sendiri. Adapun nasib umat islam secara keseluruhan yang menjadi korban kebobrokan kebijakan politik srigala culas, seolah tidak pernah menjadi agenda pembicaraan.

Lucunya, ditengah kehancuran yang nyata seperti ini, di mana semua sepakat bahwa penyebabnya memang politik kotor para penguasa bejat, masih saja ada yang berpaham untuk menjauhkan diri dari upaya memperbaikinya. Bahkan mereka malah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan umat Islam berupaya mengatisipasi kebejatan kebijakan politik. Fatwa-fatwa itu seolah mengatakan bahwa beramar makruf nahi munkar tepat pada titik permasalahannya adalah hal yang haram.
Fatwa haramnya berpolitik dan mendirikan partai pendobrak kejahilan seakan mengandung pesan bahwa kalau mau beramar makruf dan nahi munkar, jangan pada inti masalahnya, cukup pada masalah cabang dan ranting-rantingnya saja. Jangan tebang akara pohon permasalahannya, cukup setiap hari menyapu membersihkan sampahnya saja.
Padahal bila umat Islam bersatu dengan dimulai daripara ulama dan tokohnya, mereka duduk bersama dan menyamakan langkah, Insha Allah dunia politik itu bisa dikuasai dengan baik oleh orang-orang yang shalih. Sehingga semua kebijakan politik yang lahir tidak lain adalah bentuk nyata dari semangat bahwa Islam adalah rahmatan lil’alamin.

Namun pusat kekuasaan dan dunia plitik itu tidak akan begitu saja diserahkan kepada orang-orang shalih. Kecuali bila dikejar dan direbut langsung secara ,assal dari orang-orang bejat itu. Dan umat Islam dengan semua elemennya seharusnya bersatu padu untuk mengusir kekuatan mungkar dari dunia politik. Kursi mereka harus direbut, wewenang mereka harus dihapus, keuasaan mereka harus diakhiri, kelaliman mereka harus disudahi, kejayaan mereka harus diruntuhkan. Jangan ada lagi suara rakyat untuk mereka, yang sudah terbukti culas dan sewenang-wenang.

Sebagai gantinya, majulah orang-orang yang shalih, orang-orang yang dahinya ada cahaya bekas sujud dan selalu basah oleh air wudhu’, orang-orang yang bekerja demi Tuhannya, bukan demi kedudukan atau hartam orang-orang yang hanya mencari pahala untuk akhirat, bukan mencari kemuliaan duniawi, orang-orang yang tujuan hidupnya hanya mencari keridhaan Allah SWT semata.

Seaba hanya mereka sajalah yang layak mengisi dunia politik. Karena kotor tidaknya dunia politik bukan disebabkan nama politik itu sendiri, melainkan disebabkan oleh kekotoran para aktifisnya sendiri, yang memasuki dunia politik tanpa kenal siapa Allah SWT dan siapa Nabi-Nya. Mereka inilah yang telah mengharu-birukan kehidupan manusia selama ini. Padahal mereka sama sekali tidak berhak dan layak untuk duduk disana.

Perlunya Ulama Duduk Bersama.
Di sinilah perlunya para ulama duduk bersama untuk saling memeberikan pandangan dan memperluas wawasan. Kalau ada perbedaan pandangan, janganlah selalu ditanggapi negative. Justru berbahagialah, sebab perbedaan pendapat itu pada hakikatnya adalah ilham atau ilmu yang Allah SWT turunkan, meski melalui orang lain.

Seorang alim yang mumpuni biasanya selalu minta dikritisi oleh ulama lain, agar bisa mendapatka hasil ijtihad yang terbaik. Mengklaim diri sebagai pihak yang selalu benar dan pasti harus benar terus, sesungguhnya bertentangan dengan katrakterisitik keulamaan. Semakin banyak dikritisi pemikirannya, seharusnya semakin gembira, bukan malah tersinggung dan marah-marah.

Wallahu a’lam bishawab .
Wassalamualaikum Warahmatulllahi Wabarakatuh..

Ahmad Sarwat, Lc.

h1

Hello world!

March 12, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!